Rp2,12 Miliar Digelontorkan untuk SDN 7 Salotungo, LSM Sidik Bongkar Sejumlah Kejanggalan

Notification

×

Tag Terpopuler

Rp2,12 Miliar Digelontorkan untuk SDN 7 Salotungo, LSM Sidik Bongkar Sejumlah Kejanggalan

Senin, 10 Agustus 2026 | Agustus 10, 2026 WIB Last Updated 2026-08-10T08:22:07Z


Soppeng, Proyek revitalisasi SDN 7 Salotungo, Kabupaten Soppeng, dengan anggaran sekitar Rp2,12 miliar, mulai menuai sorotan tajam. LSM Sidik mempertanyakan sejumlah item pekerjaan yang dinilai penting, namun disebut tidak masuk dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB).


Proyek yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026 tersebut menjadi perhatian setelah LSM Sidik melakukan pemantauan langsung terhadap pekerjaan di lingkungan sekolah.


Sejumlah persoalan kemudian ditemukan dan dinilai perlu mendapat penjelasan dari pihak yang bertanggung jawab terhadap perencanaan maupun pelaksanaan proyek.


Salah satu yang menjadi sorotan berada pada bangunan bagian barat. Bangunan tersebut direvitalisasi menjadi dua lantai dengan pekerjaan struktur berupa kolom dan sloof sebagai penopang lantai dua.


Namun, proses pengerjaan sloof turut dipertanyakan.


LSM Sidik menyoroti penggunaan besi ulir yang disebut dicampur dengan besi biasa. Bahkan, berdasarkan keterangan pekerja di lapangan, material tersebut digunakan karena hanya material itu yang tersedia.


Tak hanya jenis besi, proses pengecoran sloof juga menjadi perhatian lantaran disebut tidak menggunakan alas pada bagian bawah.


Kondisi tersebut dinilai perlu mendapat penjelasan teknis agar kualitas konstruksi dan ketahanannya dapat dipastikan.


Ketua pelaksana disebut menjelaskan bahwa RAB hanya mencantumkan ukuran besi dan tidak secara spesifik menyebut jenis besi ulir maupun besi biasa.


Sementara pihak perencana menyampaikan bahwa sloof tersebut berfungsi sebagai pengikat untuk memperkuat kolom yang diperuntukkan bagi lantai dua.


Yang Lebih Dipertanyakan: Item Prioritas Hilang dari RAB?


Sorotan LSM Sidik tidak berhenti pada pekerjaan struktur.


Pada bangunan sekolah bagian timur, berdasarkan keterangan ketua pelaksana, pekerjaan yang dilakukan hanya meliputi rehabilitasi atap, tegel, dan plafon.


Persoalannya, terdapat sejumlah item yang sebelumnya disebut masuk dalam usulan prioritas sekolah, namun tidak tercantum dalam RAB.


Padahal, menurut LSM Sidik, item tersebut berkaitan dengan kondisi bangunan dan keselamatan peserta didik.


Ketua LSM Sidik, Mahmud Cambang, mempertanyakan alasan item yang dianggap prioritas tersebut tidak masuk dalam pekerjaan.


“Hal ini perlu ditinjau ulang. Apa dasarnya pihak perencana tidak memasukkan item tersebut, sementara kondisi di lapangan menunjukkan item itu sangat penting dan berkaitan dengan keselamatan peserta didik,” ujar Mahmud. Senin (10/8/2026). 


Menurutnya, perencanaan revitalisasi seharusnya tidak hanya berpatokan pada dokumen, tetapi juga mempertimbangkan kondisi nyata bangunan di lapangan.


Sebab, jika kebutuhan yang dianggap mendesak tidak masuk dalam pekerjaan, dikhawatirkan tujuan revitalisasi tidak sepenuhnya menjawab persoalan yang ada di sekolah.


Penataan Halaman Ratusan Juta Juga Disorot


Persoalan lainnya menyangkut penataan lingkungan halaman sekolah yang disebut memiliki nilai pekerjaan mencapai ratusan juta rupiah.


Namun berdasarkan pantauan LSM Sidik, pekerjaan tersebut disebut belum terlihat terlaksana.


Kondisi ini menambah daftar pertanyaan terhadap pelaksanaan proyek revitalisasi SDN 7 Salotungo.


Mahmud meminta pihak terkait membuka secara terang dasar penentuan setiap item pekerjaan, termasuk alasan sejumlah kebutuhan yang disebut prioritas tidak tercantum dalam RAB.


“Seharusnya kondisi di lapangan dan pengajuan item oleh pihak sekolah menjadi dasar yang sesuai dengan kondisi riil. Jangan sampai ada kebutuhan yang dianggap prioritas justru tidak masuk dalam pekerjaan,” katanya.


LSM Sidik Minta Jangan Abaikan Keselamatan Siswa


LSM Sidik berharap pihak perencana, pelaksana, maupun instansi terkait memberikan klarifikasi secara terbuka mengenai penyusunan RAB proyek tersebut.


Menurut LSM Sidik, persoalan utama bukan sekadar ada atau tidaknya sebuah item pekerjaan, tetapi apakah anggaran revitalisasi benar-benar diarahkan untuk memenuhi kebutuhan paling mendesak dan memastikan bangunan sekolah aman digunakan siswa.


Apalagi proyek tersebut menggunakan anggaran negara dengan nilai lebih dari Rp2 miliar.


Hingga berita ini diterbitkan, pihak terkait masih diharapkan memberikan penjelasan mengenai dasar penyusunan RAB, pekerjaan yang telah dilaksanakan, serta alasan sejumlah item yang disebut sebagai prioritas tidak tercantum dalam proyek revitalisasi SDN 7 Salotungo.


(Red)