Mantan Ketua Panwaslu Turun Gunung! Irfan Tantang Peta Pilkades Citta dengan “CINTA”

Notification

×

Tag Terpopuler

Mantan Ketua Panwaslu Turun Gunung! Irfan Tantang Peta Pilkades Citta dengan “CINTA”

Jumat, 28 Agustus 2026 | Agustus 28, 2026 WIB Last Updated 2026-08-29T04:47:50Z


Soppeng, Peta persaingan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Citta mulai memanas. Nama Irfan, mantan Ketua Panwaslu Kecamatan Citta, kini muncul membawa tawaran kepemimpinan yang tak sekadar mengandalkan slogan.


Dengan visi “Membangun Citta dengan Cinta”, Irfan menyatakan kesiapan maju sebagai bakal calon Kepala Desa Citta.


Bukan sekadar datang membawa nama, Irfan menawarkan lima nilai yang ia rangkum dalam kata CINTA: Cerdas, Inovatif, Nyata, Tanggap dan Amanah.


Pesannya jelas: jika diberi kepercayaan, pembangunan Citta harus bergerak dari wacana menuju kerja nyata.


Dari Pengawas Pemilu, Kini Berebut Kepercayaan Warga


Langkah Irfan terbilang menarik.


Selama ini ia dikenal melalui pengalamannya sebagai mantan Ketua Panwaslu Kecamatan Citta. Ia pernah berada di balik proses pengawasan demokrasi, memastikan tahapan pemilu berjalan sesuai aturan.


Kini, ia mengambil posisi berbeda.


Irfan tidak lagi hanya mengawasi jalannya kontestasi. Ia justru masuk ke dalam arena sebagai salah satu figur yang menawarkan diri untuk memimpin Desa Citta.


Perubahan peran itu sekaligus menjadi ujian baru.


Pengalaman mengawal proses demokrasi kini ditantang untuk diterjemahkan menjadi gagasan pemerintahan dan pembangunan desa.


“Cinta” yang Harus Dibuktikan


Bagi Irfan, kata cinta terhadap Desa Citta bukan sekadar kalimat pemanis dalam kampanye.


Cinta, menurut gagasannya, harus terlihat melalui kebijakan dan kerja yang menyentuh kepentingan masyarakat.


Karena itu, kata Nyata menjadi bagian penting dari konsep CINTA yang ia tawarkan.


“Masyarakat tidak hanya membutuhkan janji. Masyarakat membutuhkan kerja yang bisa dilihat dan manfaat yang bisa dirasakan. Kalau kita bicara pembangunan, maka harus ada hasil yang nyata,” kata Irfan.


Ia ingin pembangunan desa tidak berhenti di meja perencanaan. Program harus memiliki arah, tepat sasaran dan memberi manfaat bagi masyarakat.


Berani Bicara Perubahan


Irfan juga membawa pesan Inovatif.


Menurutnya, desa tidak boleh hanya menjalankan rutinitas tanpa berani mencari terobosan. Potensi desa harus dibaca sebagai peluang untuk menciptakan kemajuan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.


Sementara nilai Cerdas dimaknai sebagai kemampuan pemerintah desa membaca kebutuhan masyarakat dan mengambil keputusan berdasarkan persoalan yang benar-benar dihadapi warga.


Di sisi lain, Tanggap menjadi tuntutan agar pemerintah desa tidak menciptakan jarak dengan masyarakat.


Pemerintah desa, menurut Irfan, harus mudah ditemui, mau mendengar dan cepat merespons persoalan warga.


Amanah Jadi Pertaruhan


Di atas seluruh gagasan tersebut, ada satu nilai yang menurut Irfan menjadi fondasi utama: Amanah.


Sebab, kepala desa bukan sekadar pemegang jabatan.


Kepala desa adalah orang yang mendapatkan kepercayaan masyarakat untuk mengelola pemerintahan, pembangunan dan pelayanan publik di tingkat desa.


Kepercayaan itu, kata Irfan, harus dijaga dengan integritas dan tanggung jawab.


Profil Singkat Irfan


Irfan merupakan anak pertama dari empat bersaudara, putra dari Ismail Hakim.


Dalam kehidupan keluarga, ia didampingi istrinya, Indarwati, S.Pd.


Kini, pengalaman di dunia pengawasan pemilu menjadi bekal bagi Irfan untuk memasuki pertarungan politik desa.


Ia menawarkan sesuatu yang sederhana, tetapi memiliki pesan besar:


“Membangun Citta dengan Cinta.”


Bukan cinta yang hanya terdengar dalam pidato.


Bukan pula cinta yang berhenti di baliho.


Tetapi cinta yang menurut Irfan harus dibuktikan melalui kerja nyata, pelayanan yang tanggap, gagasan yang inovatif dan kepemimpinan yang amanah.


Citta di Persimpangan Pilihan


Pilkades Citta pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang paling banyak memasang baliho atau siapa yang paling sering disebut.


Masyarakatlah yang akan menentukan siapa yang paling layak mendapatkan kepercayaan.


Irfan kini menawarkan dirinya sebagai salah satu pilihan.


Dengan latar belakang pengalaman sebagai mantan Ketua Panwaslu, ia mencoba membawa narasi baru dalam kontestasi Desa Citta: kepemimpinan yang dekat dengan masyarakat dan pembangunan yang dapat dibuktikan.


Pertanyaannya tinggal satu:


Akankah “CINTA” Irfan mampu merebut hati masyarakat Citta?


Jawabannya tentu akan ditentukan oleh masyarakat melalui pilihan mereka.


Namun satu hal sudah jelas, Irfan telah menyatakan sikap:


Citta harus maju. Citta harus berubah. Dan perubahan itu, menurutnya, harus dimulai dengan cinta yang dibuktikan lewat kerja nyata.


(Red)