Tak Lagi Hanya Ceramah, Dai Indonesia Didorong Jadi Penggerak Aksi Iklim dan Ketahanan Masyarakat

Notification

×

Tag Terpopuler

Tak Lagi Hanya Ceramah, Dai Indonesia Didorong Jadi Penggerak Aksi Iklim dan Ketahanan Masyarakat

Sabtu, 23 Mei 2026 | Mei 23, 2026 WIB Last Updated 2026-06-02T07:42:25Z


Ciputat,  Peran dai dalam menjawab tantangan perubahan iklim dan memperkuat kesejahteraan masyarakat menjadi fokus utama dalam Workshop Dakwah Ekologis dan Rapat Kerja yang diselenggarakan Syiar Dai Indonesia (SDI) bersama Amanah Daya Nusantara (AYANA) di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Agama RI, Ciputat, Sabtu (23/5/2026).


Kegiatan bertema “Implementasi Dakwah SDI dan AYANA dalam Mewujudkan Kesalehan Ekologis dan Kesejahteraan Umat” itu dihadiri para dai, tokoh agama, akademisi, aktivis sosial, pegiat lingkungan, serta berbagai pemangku kepentingan yang memiliki perhatian terhadap isu perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.


Workshop tersebut menjadi wadah untuk memperkuat peran dakwah dalam merespons berbagai persoalan yang kini dihadapi masyarakat, mulai dari kerusakan lingkungan, ancaman ketahanan pangan, hingga tantangan ekonomi dan sosial yang semakin dipengaruhi dampak perubahan iklim.


Direktur Program AYANA, Rully N. Amrullah, mengatakan bahwa perubahan iklim saat ini telah berkembang menjadi persoalan multidimensi yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada sektor lingkungan, tetapi juga sektor pertanian, kesehatan, ekonomi, dan kesejahteraan kelompok rentan.


Menurutnya, meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem, perubahan pola musim, gangguan produksi pertanian, serta meningkatnya risiko bencana merupakan sejumlah dampak nyata yang kini dirasakan masyarakat di berbagai daerah.


“Dakwah ekologis bukan hanya tentang menjaga alam, tetapi juga menjaga kehidupan, memperkuat masyarakat, dan melindungi generasi masa depan,” kata Rully saat memberikan materi kepada peserta workshop.


Ia menilai pendekatan dakwah perlu terus berkembang agar mampu menjawab tantangan zaman. Nilai-nilai keagamaan, menurutnya, dapat menjadi landasan moral yang kuat untuk membangun kesadaran masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim sekaligus mendorong aksi nyata yang berdampak langsung pada kesejahteraan umat.


Dalam paparannya, Rully menegaskan bahwa tokoh agama memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran publik. Dengan jaringan dakwah yang luas dan kedekatan dengan masyarakat hingga tingkat akar rumput, para dai dinilai memiliki kemampuan untuk menyampaikan pesan-pesan pelestarian lingkungan secara lebih efektif dan berkelanjutan.


Pada kesempatan tersebut, AYANA memperkenalkan pendekatan yang mengintegrasikan tiga pilar utama, yakni teologi, ekonomi, dan ekologi. Pendekatan tersebut dirancang untuk membangun kesejahteraan umat secara berkelanjutan dengan menempatkan nilai-nilai agama sebagai fondasi moral, penguatan ekonomi sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat, serta pelestarian lingkungan sebagai upaya menjaga keberlangsungan sumber daya alam.


Melalui pendekatan tersebut, aksi iklim tidak hanya dipahami sebagai upaya mengurangi emisi karbon atau melakukan penghijauan semata, tetapi juga sebagai strategi untuk memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi berbagai dampak perubahan iklim.


Peserta workshop juga memperoleh pemaparan mengenai konsep Faith-Based Climate Action atau aksi iklim berbasis nilai-nilai agama. Konsep ini dinilai memiliki relevansi tinggi di Indonesia yang memiliki kekuatan sosial dan spiritual melalui berbagai organisasi serta lembaga keagamaan yang tersebar di seluruh wilayah.


Pendekatan tersebut mendorong tokoh agama untuk berperan sebagai agen perubahan yang mampu meningkatkan literasi iklim masyarakat, membangun kesadaran lingkungan, sekaligus menggerakkan berbagai aksi kolektif yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.


Dalam sesi diskusi, peserta menyoroti berbagai dampak perubahan iklim yang semakin sering terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Banjir, kekeringan, cuaca ekstrem, serta berbagai bencana hidrometeorologi lainnya dinilai semakin memengaruhi kehidupan masyarakat, terutama kelompok yang bergantung pada sektor pertanian dan sumber daya alam.


Para peserta menilai forum-forum keagamaan yang selama ini menjadi rujukan masyarakat memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai ruang edukasi lingkungan. Melalui ceramah, pengajian, khutbah, maupun kegiatan sosial keagamaan lainnya, pesan-pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan dapat disampaikan secara lebih luas dan mudah diterima masyarakat.


Selain membahas penguatan kapasitas dai, workshop tersebut juga merumuskan sejumlah program prioritas yang akan dikembangkan melalui kolaborasi SDI dan AYANA. Program tersebut meliputi penyelenggaraan Climate Leadership Lab bagi tokoh agama dan dai, pengembangan materi dakwah berbasis lingkungan, penguatan aksi komunitas, kampanye publik, serta perluasan kemitraan dengan media.


Penguatan kolaborasi lintas sektor juga menjadi salah satu agenda penting dalam kegiatan tersebut. Peserta menekankan pentingnya membangun kerja sama dengan organisasi keagamaan, lembaga pendidikan, lembaga filantropi, komunitas lingkungan, dunia usaha, dan media massa guna memperluas jangkauan serta dampak gerakan dakwah ekologis.


Menurut peserta, keterlibatan berbagai pihak diperlukan untuk mempercepat perubahan sosial dan membangun gerakan yang mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat secara lebih luas dan berkelanjutan.


Kegiatan tersebut mendapat respons positif dari para peserta yang menilai dakwah ekologis merupakan pendekatan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Selain memperkuat nilai-nilai keagamaan, pendekatan tersebut juga dinilai mampu memberikan kontribusi nyata dalam menjawab persoalan lingkungan yang semakin kompleks.


Melalui workshop ini, SDI dan AYANA berharap dapat mendorong lahirnya gerakan dakwah ekologis yang lebih terstruktur, berkelanjutan, dan berdampak nyata dalam meningkatkan kesadaran lingkungan, memperkuat ketahanan pangan, serta mendukung kesejahteraan masyarakat.


Di tengah meningkatnya ancaman krisis iklim global, para peserta sepakat bahwa dakwah masa depan perlu hadir sebagai jembatan antara nilai-nilai agama dan kebutuhan masyarakat. Upaya menjaga lingkungan, menurut mereka, bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau kelompok tertentu, tetapi merupakan tanggung jawab bersama demi menjaga kehidupan dan masa depan generasi mendatang. 


(Red)