Lautan Layang-Layang Penuhi Langit Desa Belo, 2.000 Peserta dari Berbagai Daerah Padati Festival

Notification

×

Tag Terpopuler

Lautan Layang-Layang Penuhi Langit Desa Belo, 2.000 Peserta dari Berbagai Daerah Padati Festival

Minggu, 20 September 2026 | September 20, 2026 WIB Last Updated 2026-09-20T17:09:39Z


Soppeng, Langit Desa Belo, Kecamatan Ganra, Kabupaten Soppeng, Minggu (20/9/2026), berubah menjadi lautan warna. Ribuan layang-layang menghiasi hamparan langit dalam Festival Layang-Layang Pitu-Pitu Soppeng yang diikuti sekitar 2.000 peserta dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan.


Bukan hanya warga Soppeng. Peserta dari sejumlah kabupaten, di antaranya Pinrang, Sidrap, Luwu, Bone hingga Maros, turut datang dan memadati area persawahan Dusun Pao Mallimpoe, Desa Belo.


Festival tersebut menjadi ruang pertemuan para pencinta layang-layang sekaligus momentum menghidupkan kembali permainan tradisional yang sarat dengan nilai kebersamaan.


Digelar secara gratis dan terbuka untuk umum, kegiatan ini dikemas dalam konsep Main Bareng yang mempertemukan komunitas layang-layang dari berbagai wilayah.


Panitia pelaksana, Incess, mengatakan kegiatan tersebut sengaja dibuat terbuka agar masyarakat dari berbagai kalangan dapat ikut menikmati sekaligus meramaikan festival.


“Kegiatan ini terbuka untuk umum dan gratis. Ini merupakan rangkaian dari acara Main Bareng sekaligus ajang silaturahmi bagi para pecinta layang-layang,” ujar Incess.


Pembukaan festival dilakukan Kapolsek Ganra IPDA Muhtadi bersama Kepala Desa Belo, Wahyu Asharie. Sejumlah tokoh masyarakat, insan pers dan aktivis lembaga swadaya masyarakat juga terlihat hadir di lokasi.


Di antaranya Ketua IWO Kamaruddin, Ketua Join Herwan serta perwakilan LSM Lidik, Mahmud Cambang.


Kapolsek Ganra IPDA Muhtadi mengapresiasi pelaksanaan festival tersebut. Menurutnya, kegiatan seperti ini tidak hanya menghadirkan hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi lintas daerah.


Ia berharap kegiatan tersebut dapat terus dilaksanakan dengan tetap mengedepankan keamanan dan ketertiban.


“Harapan kita bersama, kegiatan ini berjalan dengan aman, lancar, dan kondusif. Semoga ajang silaturahmi ini terus berkelanjutan dan membawa dampak positif bagi kebersamaan masyarakat kita,” katanya.


Kemeriahan Festival Layang-Layang di Desa Belo pun menjadi gambaran bagaimana permainan tradisional masih mampu mengumpulkan ribuan orang dalam satu ruang kebersamaan.


Dari langit Desa Belo, layang-layang bukan sekadar permainan. Ia menjadi simbol pertemuan komunitas, ruang silaturahmi, sekaligus cara sederhana menjaga tradisi agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.


(Red)