Liga Ramadan Desa Masing Nyaris Ricuh, Diskualifikasi Tim Baringeng Dinilai Tanpa Dasar Aturan

Notification

×

Tag Terpopuler

Liga Ramadan Desa Masing Nyaris Ricuh, Diskualifikasi Tim Baringeng Dinilai Tanpa Dasar Aturan

Senin, 16 Maret 2026 | Maret 16, 2026 WIB Last Updated 2026-03-16T17:36:17Z

Illustrasi


Soppeng, Pelaksanaan Liga Ramadan di Desa Masing, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, menuai polemik serius. Senin (16/3/2026). 


Kompetisi yang seharusnya menjadi ajang silaturahmi dan hiburan masyarakat justru diwarnai ketegangan setelah keputusan panitia yang dinilai tidak transparan dalam menerapkan aturan pertandingan.


Kericuhan hampir terjadi setelah Tim Putra Baringeng FC dinyatakan didiskualifikasi oleh panitia. 


Keputusan tersebut langsung memicu protes keras dari pihak tim karena dianggap tidak memiliki dasar aturan yang jelas dan bertentangan dengan kesepakatan awal yang telah disepakati bersama sebelum kompetisi berlangsung.


Menurut pihak tim, selama kompetisi berjalan, panitia dinilai “main kucing-kucingan” dengan aturan, yang berarti aturan pertandingan seolah berubah-ubah tanpa pemberitahuan resmi kepada seluruh tim peserta.


Situasi di lapangan sempat memanas karena sejumlah pemain dan pendukung tim mempertanyakan dasar keputusan tersebut. 


Beruntung, kericuhan yang berpotensi terjadi berhasil diredam sebelum berubah menjadi konflik terbuka antar tim maupun penonton.


Ironisnya, ketika dikonfirmasi terkait polemik tersebut, Ketua Panitia Liga Ramadan Desa Masing, Darwis, justru mengaku tidak mengetahui adanya perubahan aturan yang menjadi dasar diskualifikasi tim.


Pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan baru di tengah masyarakat dan peserta kompetisi: siapa sebenarnya yang menetapkan aturan tersebut?


Jika benar terjadi perubahan aturan, mengapa panitia sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap jalannya kompetisi justru tidak mengetahui atau tidak mampu menjelaskan keputusan yang diambil?


Kondisi ini semakin memperkuat dugaan adanya ketidakteraturan dalam pengelolaan kompetisi, bahkan memunculkan kekhawatiran bahwa keputusan yang diambil tidak melalui mekanisme yang jelas.


Mewakili tim Putra Baringeng FC, Hamka menyampaikan kekecewaan mendalam terhadap keputusan panitia. 


Ia menilai diskualifikasi yang dijatuhkan kepada timnya sangat merugikan dan mencederai semangat sportivitas yang seharusnya dijunjung tinggi dalam kompetisi olahraga.


Hamka juga meminta ASKAB Kabupaten Soppeng sebagai otoritas sepak bola di tingkat kabupaten agar tidak menutup mata terhadap insiden ini.


Menurutnya, lembaga tersebut memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa setiap kompetisi sepak bola yang digelar di wilayahnya berjalan secara adil, transparan, dan sesuai dengan aturan yang jelas.


Selain itu, Hamka juga berharap pihak keamanan dapat turun tangan untuk mengantisipasi potensi konflik yang lebih besar jika persoalan ini tidak segera diselesaikan.


Ia bahkan meminta agar Liga Ramadan Desa Masing dihentikan sementara sampai ada kejelasan mengenai aturan dan keputusan diskualifikasi yang dijatuhkan kepada timnya.


Hingga berita ini diturunkan, pihak ASKAB Kabupaten Soppeng belum memberikan tanggapan resmi terkait polemik yang terjadi. Upaya konfirmasi yang dilakukan melalui pesan WhatsApp belum mendapatkan jawaban.


Sikap diam ini tentu menimbulkan tanda tanya di tengah publik, terutama bagi para pecinta sepak bola lokal yang berharap adanya pembinaan dan pengawasan yang serius terhadap kompetisi-kompetisi di tingkat Desa.


Liga Ramadan pada dasarnya merupakan kegiatan positif yang sering digelar di berbagai daerah untuk mempererat silaturahmi masyarakat selama bulan suci. Namun, tanpa manajemen yang baik dan aturan yang jelas, kegiatan seperti ini justru berpotensi menimbulkan konflik baru.


Tim yang merasa dirugikan kini menunggu kejelasan  panitia maupun pihak terkait mengenai polemik yang terjadi. 


Transparansi dan sikap terbuka dianggap menjadi langkah penting untuk meredam ketegangan serta menjaga kepercayaan masyarakat terhadap kegiatan olahraga di tingkat desa.


Jika persoalan ini tidak segera diselesaikan secara terbuka dan adil, bukan tidak mungkin Liga Ramadan yang seharusnya menjadi ajang kebersamaan justru berubah menjadi sumber perpecahan di tengah masyarakat.


(Idul Saputra)