Soppeng, Warga di wilayah Tinco, Kabupaten Soppeng, mengeluhkan dampak debu yang diduga berasal dari aktivitas pabrik pengolahan gabah/padi yang berada di wilayah Bentenge.
Debu berwarna hitam tersebut disebut warga terbawa angin hingga ke permukiman, terutama ketika angin bertiup dari arah barat. Kondisi itu dinilai cukup mengganggu aktivitas masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan pabrik.
Salah seorang warga yang meminta namanya tidak disebutkan mengatakan, debu dari arah pabrik terkadang terbawa angin hingga masuk ke rumah warga.
“Kalau datang angin, khususnya dari arah barat, debunya sampai ke rumah warga,” ujarnya. Kamis (3/9/2026).
Warga yang tinggal sekitar satu kilometer dari lokasi pabrik tersebut mengaku, pada saat debu beterbangan, partikelnya bahkan dapat ditemukan hingga ke dalam rumah.
“Biasanya kalau lagi terbang debunya sampai masuk ke dalam rumah. Debunya bisa digenggam dari lantai, dan kalau hujan, air dari atap berwarna hitam” katanya.
Menurutnya, dampak debu juga terlihat pada tanaman di sekitar rumah seperti pohon kelapa, daun pisang. Daun-daun tanaman disebut dipenuhi debu sehingga harus dibersihkan sebelum digunakan.
“Baru-baru ini mau bikin buras, daun yang akan digunakan sebagai pembungkus harus dibersihkan lebih lama karena banyak debu,” tuturnya.
Ia juga mengatakan, debu tersebut terkadang terlihat jelas karena partikelnya cukup kasar dan mudah terbawa angin.
Meski mengaku belum merasakan dampak yang berarti terhadap kondisi tubuh orang dewasa, warga tersebut mengaku khawatir terhadap kemungkinan dampaknya bagi anak-anak, khususnya balita.
“Kalau untuk tubuh orang dewasa mungkin tidak terlalu terasa dampaknya, tapi kalau untuk anak-anak, khususnya balita, kami belum tahu,” ujarnya.
Warga berharap pihak terkait dapat memperhatikan kondisi tersebut dan memastikan aktivitas pabrik tidak menimbulkan dampak terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat sekitar.
Ia juga berharap pihak pengelola pabrik dapat memasang penyaring debu atau sistem pengendalian emisi lainnya agar debu tidak menyebar ke permukiman warga.
“Kami berharap ada saringan atau semacamnya, supaya hal ini tidak berdampak kepada masyarakat,” harapnya.
Hingga berita ini ditulis, belum diperoleh keterangan dari pihak pengelola pabrik maupun instansi terkait mengenai keluhan warga tersebut.
(Red)

